Jumat, 21 Maret 2014

70 cabang KEIMANAN & TAKWA




Bismillahirrahmanirrahim...

70 cabang KEIMANAN & TAKWA
Dari Abu Hurairah. Nabi SAW bersabda:



 "Iman memiliki 60 atau 70 cabang lebih. 
Cabangnya yang tertinggi adalah ucapan LAA ILAAHA ILLALLAAH 
(tiada tuhan selain Allah). 
Sedangkan cabang yang terendah adalah menyingkirkan gangguan yang terdapat di jalan. Sifat malu itu juga bagian dari cabang iman." (HR. Bukhari dan Muslim)

cabang-cabang Iman tersebut, selengkapnya adalah:

1. Beriman kepada Allah SWT

2. Beriman kepada Malaikat-malaikat-Nya

3. Beriman kepada Kitab-kitab-Nya

4. Beriman kepada Rasul-rasul-Nya

5. Beriman adanya hari kemudian

6. Beriman adanya takdir yang digariskan-Nya

7. Beriman adanya hari kebangkitan.(QS. Al-Hajj : 5)

8. Beriman adanya hari dikumpulkan manusia di padang Mahsyar setelah dibangkitkan dari kubur. (QS. Al-Muthaffifin : 4-6)

9. Beriman bahwa tempat kembalinya orang-orang yang beriman adalah surga, dan tempat kembalinya orang-orang kafir ialah neraka (QS. Al-Bayyinah : 6)

10. Beriman bahwa mencintai Allah SWT itu wajib. (QS. Al-Baqarah : 165)

11. Beriman bahwa takut kepada Allah itu wajib. (QS. Al-Maidah : 44)

12. Beriman bahwa mengharap ridha Allah itu wajib (QS. Al-Isra : 57)

13. Beriman bahwa kita wajib bertawakal kepada Allah setelah berusaha. (QS. Ali-Imran : 122)

14. Beriman bahwa mencintai Nabi Muhammad SAW itu wajib. (HR. Bukhari dan Muslim)

15. Beriman bahwa kita wajib mengagungkan dan menghormati Nabi Muhammad SAW. (QS. Al-Arraf : 157)

16. Setia terhadap agama yang dianutnya. (HR. Muslim)

17. Mencari ilmu adalah bagian dari iman. (QS. An-Nissa :113)

18. Menyebarkan ilmu adalah bagian dari iman (QS. At-Taubah : 122)

19. Memuliakan Al-Qur'an adalah bagian dari iman (QS. Al-Waaqi'ah 77-79)

20. Bersuci (wudlu, mandi) adalah bagian dari iman (HR. Muslim)

21. Menegakkan shalat adalah bagian dari iman (QS. An-Nisaa : 103)

22. Mengeluarkan zakat adalah bagian dari iman (QS. Ali-Imran : 180)

23. Berpuasa Ramadhan adalah bagian dari iman (QS. Al-Baqarah : 183)

24. Ber'itikaf (berdiam diri di masjid berniat ibadah) walau sejenak adalah bagian dari iman. (HR. Bukhari dan Muslim)

25. Menunaikan ibadah haji adalah bagian dari iman (QS. Ali-Imran : 197)

26. Berjuang / berjihad di jalan Allah adalah bagian dari iman (QS. Al-Hajj : 78)

27. Siap berjuang di jalan Allah adalah bagian dari iman (QS. Ali-Imran : 200)

28. Pantang mundur menghadapi musuh dalam pertempuran adalah bagian dari iman (QS. Al-An'faal : 45)

29. Membagi harta rampasan perang kepada yang berhak adalah bagian dari iman (QS. Ali-Imran : 161)

30. Memerdekakan budak karena Allah adalah bagian dari iman (HR. Bukhari)

31. Membayar denda adalah bagian dari iman

32. Menepati janji adalah bagian dari iman (QS. Al-Maidah : 1)

33. Menghitung nikmat karunia Allah sambil mensyukurinya adalah bagian dari iman (QS. Adh-Dhuhaa : 11)

34. Memelihara lidah dari ucapan yang sia-sia adalah bagian dari iman (QS. Al-Israa : 36)

35. Menyampaikan amanah kepada yang berhak adalah bagian dari iman (QS. Al-Anfaal : 27)

36. Tidak melakukan kejahatan dan tidak membunuh orang adalah bagian dari iman (HR. Bukhari dan Muslim)

37. Tidak melakukan zina dan menjaga kehormatan adalah bagian dari pada iman (QS. Al-Isra :32)

38. Memelihara diri dari harta yang diperoleh dengan jalan haram adalah bagian dari iman (QS. Al-Baqarah : 188)

39. Memelihara diri dari makanan dan minuman yang diharamkan adalah bagian dari iman (QS. Al-Maidah : 90)

40. Tidak memakai sesuatu yang diharamkan adalah bagian dari iman (HR. Bukhari)

41. Menjauhi permainan dan hiburan yang bertentangan dengan ajaran islam adalah bagian dari iman (HR. Muslim)

42. Sederhana dalam membelanjakan harta dan mengharamkan memakan harta dengan batil adalah bagian dari iman (QS. Al-Furqaan : 67)

43. Meninggalkan sifat dendam, dengki dan sejenisnya adalah bagian dari iman (QS. Al-Falaq : 5)

44. Tidak menodai kehormatan orang lain dan menjauhi perbuatan menggunjing orang lain adalah bagian dari iman (QS. Al-Ahzab : 58)

45. Beramal dengan ikhlas adalah bagian dari iman (QS. Al-Bayyinah : 5)

46. Gembira berbuat baik dan sedih berbuat jahat adalah bagian dari iman (HR. Abu Daud, Tabrani, Nasai dan Ahmad)

47. Apabila menyadari melakukan dosa segera bertobat adalah bagian dari iman (QS. An-Nuur : 31)

48. Mengadakan qurban adalah bagian dari iman (QS. Al-Kautsar : 1-2)

49. Taat pada perintah Allah dan Rasul adalah bagian dari iman (QS. An-Nisa : 59)

50. Memegang teguh pendapat jamaah, menurut sebagian besar ulama, ialah mereka yang berada di atas kebenaran, walaupun dia hanya seorang diri, dgn demikian mereka yang berdiri diatas kebenaran (jalan Allah) adalah bagian dari iman

51. Mengadili orang lain dengan adil adalah bagian dari iman (QS. An-Nisa : 58)

52. Menyeru kepada kebajikan (amar ma'ruf) dan mencegah kemungkaran adalah bagian dari iman (QS. Ali-Imran : 104)

53. Tolong menolong dalam kebaikan dan takwa adalah bagian dari iman (QS. Al-Maidah : 2)

54. Memelihara sifat malu adalah bagian dari iman (HR. Bukhari dan Muslim)

55. Berbakti kepada ibu-bapak adalah bagian dari iman (QS. Al-Baqarah : 83)

56. Bersilahturahmi untuk memelihara hubungan baik dengan sanak saudara adalah bagian dari iman (QS. Muhammad : 22-23)

57. Berbudi luhur, menahan amarah, dan rendah hati adalah bagian dari iman (QS. Ali-Imran : 133-134)

58. Memperlakukan hamba sahaya dengan baik adalah bagian dari iman (QS. An-Nisa : 36)

59. Memenuhi hak keluarga dan menjaganya dari api neraka adalah bagian dari iman (QS. At-Tahrim : 6)

60. Melaksanakan perintah atasan, pimpinan, (imam) selama tidak bertentangan dengan ajaran islam bagian dari iman (HR. Jama'ah)

61. Memperkokoh rasa cinta kepada sesama umat muslim adalah bagian dari iman (HR. Muslim)

62. Menjawab salam adalah bagian dari iman (QS. Anisa : 86)

63. Menjenguk orang sakit adalah bagian dari iman

64. Menshalati muslim yang wafat adalah bagian dari iman (HR. Muslim)

65. Mendoakan orang bersin adalah bagian dari iman

66. Bersikap tegas dan keras terhadap mereka yang munafik dan kafir adalah bagian dari iman (QS. At-Taubah : 73)

67. Menghormati tetangga adalah bagian dari iman (QS. An-Nisa : 36)

68. Menyimpan aib dan dosa orang lain adalah bagian dari iman (QS. An-Nur : 19)

69. Memuliakan tamu adalah bagian dari iman (HRmi. Muslim)

70. Sabar dalam menghadapi segala musibah adalah bagian dari iman (QS. Az-Zumar : 10)

71. Menahan diri dari nilai dunia adalah bagian dari iman (QS. Ibrahim : 2-3)

72. Cemburu dan tidak membiarkan pergaulan bebas adalah bagian dari iman (Al-Hadits)

73. Menjauhkan diri dari perbuatan yang sia-sia (perbuatan yang melupakan akhirat) adalah bagian dari iman (HR. Tirmizi dan Ibnu Majah)

74. Wajib memaafkan adalah bagian dari iman (QS. An-Nur : 22)

75. Menciptakan perdamaian antara sesama muslim adalah bagian dari iman (QS. Al-Hujurat : 10)


DAN MASIH BANYAK LAGI HAL YANG MENEKANKAN AKAN KEIMANAN YANG terdapat dalam Al-Qur'an,

 mengingat keimanan pada dasarnya tertuang dalam surah Al-Fatihah hingga Asy-Syura, dimana dalam surah tsb pada ayat 52 Allah SWT berfirman: 

Wa kazalika auhaina ilaika ruham min amrina, ma kunta tadri mal kitabu wa lal-imanu wa lakin ja'alnahu nuran nahdi bihi man nasya'u min 'ibadina , wa innaka latahdi ila siratim mustaqim (QS. Asy-Syura : 52)
artinya :

Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) ruh (Al-Qur'an) dengan perintah kami. Sebelumnya engkau tidaklah mengetahui apakah kitab (Al-Qur'an) dan apakah iman itu, tetapi kami jadikan Al-Qur'an itu cahaya, dengan itu Kami memberi petunjuk siapa yang Kami kehendaki diantara hamba-hamba Kami. Dan sungguh, engkau benar-benar membimbing (manusia) kepada jalan yang lurus.
(QS. Asy-Syura : 52)

Adapun surah-surah berikutnya berisikan penekanan akan keimanan dimana kewajiban kita selaku umat muslim utk melaksanakan seluruh hal yang berkaitan keimanan dan itulah yang disebut dengan bertakwa, dimana bila semua Al Qur’an diringkas, intinya adalah takwa. Maka setiap cerita tentang hari kiamat dalam Al Qur’an adalah untuk meningkatkan ketakwaan. Supaya manusia tahu bahwa dunia bukan tujuan. Melainkan tempat berbekal amal saleh menuju alam akhirat. Setiap cerita tentang para nabi, juga tujuannya takwa. 

hal tersebut sesuai dengan firman Allah:

" Wahai orang-orang yang beriman! Bertaqwalah kamu kepada Allah ,sebenar-benarnya taqwa kepada-Nya" (Ali Imran :102)

"Dan sungguh, pahala akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan selalu bertakwa."
(QS. Yusuf/12 : 57) 
 

Sabtu, 08 Februari 2014

MAKRIFAH

M A K R I F A H
Makrifah berasal dari akar kata “a-ra-fa”, yang bermakna mengenal akan sesuatu. SEcara bahasa , makrifah berarti meliputi sesuatu sebagaimana apa adanya . Dalam kitab suci Al Quran disebutkan:
“ Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul ( Muhammad ) kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran yang telah mereka ketahui “ ( Surah al Maidah : 83 ),
“ Dan orang yang telah Kami berikan kitab kepadanya, mereka mengenal ( Muhammad ) seperti mereka mengenal anak-anak mereka sendiri “ ( Surah al An’am : 20 ).
Dalam Hadis Rasulullah saw bersabda :
“ Aku adalah orang yang paling mengenal Allah dan paling takut kepadaNya “. ( Kitab Madarijussalikin, jilid 3, m.s.338)
“ takutlah kamu ( bertaqwa ) kepada Allah, dengan mengambil perhatian atas apa yang engkau kenal akan Dia dan dengan meninggalkan apa yang dilarangNya “ ( riwayat Ahmad ).
“ Iman itu adalh mengenal Allah dengan hati “ ( Ibnu Majah )
“ Iman itu adalah mengenal dengan hati, mengakui dengan lisan dan mengamalkan dengan perbuatan “ ( riwayat Thabrani dan Baihaqi )
“ Hati orang munafiq mengenal Allah tetapi mereka mengingkariNya “ ( riwayat Ahmad ).
Ibnu Qayim menyatakan bahwa orang yang bermakrifat (arif) adalah orang yang memiliki makrifat tentang Allah dengan segala sifat, asma dan perbuatanNya, kemudian Allah membenarkan muamalahnya, memurnikan tujuan dan niatnya, melepaskan akhlak-akhlaknya yang buruk, sabar menerima ketetapan hukum Allah, baik yang berupa nokmat atau musibah, kemudian berdoa kepadaNya berdasarkan bashirah terhadap agama dan ayat-ayat Allah, memurnikan seruan hanya kepada Allah seperti yang dibawa oleh Rasulullah, tidak dicampuri dengan keinginan , pemikiran dan hawa nafsu.
Sebagian ulama berkata bahwa diantara tanda makrifat kepada Allah adalah munculnya rasa takut kepada Allah, sehingga sesiapa yang lebih mengenal Allah maka dia akan lebih takut kepadaNya, sebagaimana yang dinyatakan oleh hadis nabi diatas.
Ada yang menyatakan bahwa makrifat akan mendatangkan ketenangan jiwa, sehingga sesiapa yang bermakrifat kepada Allah maka dia akan merasakan bertambahnya ketenangan jiwa “.
Ada orang yang bertanya : Apakah tanda makrifat kepada Allah ? Ulama Salaf menjawab bahwa tanda makrifat kepada Allah adalah kebersamaan hati dengan Allah dan merasakan kedekatan hati dengan Allah “.
Ulama tasawuf, Syibli berkata : “ Orang yang arif tidak mempunyai ikatan, orang yang mencintai tidak mengeluh, hamba yang arif tidak akan mengadu, bagi hamba yang takut tidak akan merasa aman dari siksa Allah, tetapi dia juga mengakui tidak akan dapat lari daripada Allah “.
Ulama sufi yang lain, Ahmad bin Ashim berkata : “ Sesiapa yang paling memiliki makrifat kepada Allah, maka dia akan merasa paling takut dengan siksa Allah “.
Ada lagi yang mengatakan bahwa ; Sesiapa yang makrifat kepada Allah, maka dia merasa sempitnya dunia karena rindu ingin berjumpa dengan Allah “
Ada yang menyatakan “ Makrifat kepada Allah akan melapangkan segala kesempitan “. Hal ini disebabkan dia mengenal sifat-sifat Allah, sehingga tidak ada kesulitan dan kesempitan dalam hidup ini, sebab dia yakin dengan segala sifat-sifat Allah.
Ulama lain berkata : “ Sesiapa yang memiliki makrifat kepada Allah, maka hidupnya menjadi jernih dan tenang, segala sesuatu takut kepadanya, dia tidak takut kepada apapun dan hatinya merasakan dekatnya seakan-akan berada di sisi Allah “.
Subagian ulama menyatakan : “ Makrifat kepada Allah maka dia akan merasa senang kepada Allah, senang dengan kematian, dan semuanya akan senang kepadanya, sementara sesiapa yang tidak memiliki makrifat kepada Allah maka dia akan merasakan terputusnya dunia, ( dunia tidak member manfaat bagi kehidupannya dimasa mendatang ), dan sesiapa yang makrifat kepada Allah tidak akan membiarkan sedikiktpun dari masa dan kesenangan di dunia kecuali hanya dipergunakan untuk mencari keridhaan Allah, dan jika memakai kesenangan hanya untuk dirinya berarti dia telah mendustakan makrifatnya kepada Allah. Sesiapa yang memilkiki makrifat kepada Allah, maka AllahTaala akan mencintainya, tergantung dari ukuran makrifatnya kepada Allah. Sesiapa yang makrifat kepada Allah, maka dia sangat takut kepadaNya ( khauf ), selalu berharap kepadaNya ( raja’ ), bertawakkal dan berserah diri kepadaNya, selalu merindukan perjumpaan dengan Nya, merasa malu kepadaNya ( jika tidak melakukan perintahNya), mengagungkanNya dan memuliakanNya “.
Diantara tanda orang yang arif adalah jika dia melihat dan mendengar informasi yang ghaib maka hatinya segera menjadi cermin mengajak kepada beriman, seberapa jauh kejernihan cermin hati itu, maka sejauh itu dia merasakan kehadirran Allah, merasakan kehidupan akhirat, merasakan wujudnya surge dan neraka, merasakan kehadiran rasul dan malaikat.
Ada orang yang bertanya kepada seorang ulama tasawuf Al Junaid bahwa ada segolongan orang yang mengaku telah mendapat tingkat makrifat sehingga merasa tidak perlu lagi menjalankan shalat dalam gerakan, cukup dengan mengenal Allah saja, dan mereka menyangka itulah suatu kebajikan , maka AlJunaid berkata : “ Mereka itu adalah orang yang dengan sengaja menggugurkan amal ibadah. Dalam pandangan saya ini merupakan masalah yang berat,karena orang yang berzina atau mencuri lebih baik daripada mereka yang berpendapat demikian. Orang yang memiliki makrifat tentang Allah sepatutnya mengambil berat setiap amal ibadah kepada Allah dan hanya ditujukan kepada Allah. Andaikata aku ( aljunaid ) berumur seribu tahun lagi, maka aku tidak akan mengurangi amal ibadah walaupun sebesar atom kecuali jika umurka telah dihentikan “.
Diantara tanda orang yang arif adalah tidak menyesali apa yang lepas daripada tangannya, dan tidak gembira karena sesuatu yang diterimanya, sebab dia melihat bahwa segala sesuatu tidak akan kekal ( fana ), dan segala sesuatu itu adalah milik Allah, semua datang dari Allah dan akan kembali kepada Allah.
AlJunaid berkata : Orang tidak disebut arif kecuali dia menjadi seperti tanah yang siap dipijak oleh orang baik dan orang yang buruk, atau menjadi seperti awan yang akan memberikan perlindungan kepada segala sesuatu, atau seperti hujan yang akan memberikan airnya kepada orang yang disukai ataupun tidak disukai ‘.
Ulama lain berkata : Orang tidak disebut arif kecuali jika dia memiliki harta sebanyak diberikan kepada nabi Sulaiman, tetapi harta itu tidsak membuatnya berpaling sedikitpun daripada Allah”.
Seorang ulama sufi Dzun Nun al Masri berkata : “ Tanda orang arif itu tiga macam : Cahaya makrifatnya tidak memadamkan cahaya wara’nya. Kedua tidak mempercayai ilmu batin dapat mengalahkan ilmu hukum secara zahir. Ketiga, limpahan nikmat Allah tidak membuatnya merusak tabir yang telah diharamkan Allah kepadanya “.
Dzun Nun ditanya dengan apa engkau mengenal Allah ? Maka dia menjawab : “ Aku mengenal Tuhan dengan Tuhanku, jikalau bukan karena TuhanKu maka aku tidak akan mengenal Tuhanku “.
Orang arif akan tetap menjaga hubungannya dengan Allah walaupun dalam keadaan tidur, sehingga ada yang berkata : Tidurnya orang arif sama dengan berjaga dan nafasnya orang arif merupakan tasbih, oleh sebab itu tidurnya orang arif lebih baim daripada shalatnya orang yang lalai “.
Ulama berkata bergaul dengan orang arif akanmengajakmu kepada enam perkara ; “ Mengajakmu dari keraguan kepada keyakinan, dari riya kepada ikhlas, dari lalai kepada dzikir, dari keinginan terhadap dunia kepada keinginan kepada akhirat, dari takabur kepada tawadhu, dan dari buruk sangka kepada nasihat “.
Orang arif adalah orang yang selalu mengisi waktunya dengan amal kebajikan, dan membagun waktunya untukmkehidupan dimasa mendatang.
Oleh sebab itu Muhammad bin al Fadl berkata : Makrifat itu adalah hidupnya hati seorang hamba bersama Allah.
Walahu A’lam
Masjid AlGhufron, 7 Ogos 2007/23Rajab 1428
Muhammad Arifin bin Ismail.

Rabu, 08 Januari 2014

NAFSU

Syetan itu adalah anak turunan Iblis semoga al Haq selalu mengutuknya, ketika bias-bias Iblis telah mendominasi nafsu dan tabiat seseorang serta melahirkan geliat syahwat pada orang itu, disitulah syetan tertampakkan dalam arti yang sesungguhnya, ketika Iblis mampu membalikkan al Fuad (hati yang eksis) menjadi Qolbu (hati yang tidak eksis), maka lahirlah Syetan-syetan itu dari diri Iblis, seperti lahirnya keburukan dari bara api, pun laksana tumbuhnya tetumbuhan diatas muka bumi ini. Para pengikut setan itulah sejatinya anak turunan Iblis, yang selalu bersemayam di hati setiap insan, para setan itu selalu menebar kejahatan dan bisikan jahat yang tersembunyi di dada manusia, para setan itu berkolaborasi dengan manusia dalam segala hal diberbagai dimensi kehidupan yang ada, seperti yang diwartakan pesan Qur’ani: Mereka berserikat dengan para manusia pada harta dan anak-anak. (Q.s al Israa’ 64). Di antara mereka ada yang mengokohkan watak-watak kebinatangan manusia, dan meredupkan cahaya-cahaya ketuhanan pada diri manusia, para setan itu bahkan mampu menampakkan diri mereka dengan wujud hakiki manusia, hal itu seperti yang ditegaskan firman Qur’ani: Setan-setan dari jenis manusia, dan dari jenis jin. (Q.s al An’aam 112), hanya manusia-manusia yang makrifah dan tajam mata hati dan fikirannyalah yang bisa mengetahui kesejatian setan-setan jenis manusia tersebut. Setan jenis inilah sejatinya sumber fitnah dalam kehidupan dunia ini, yang sepak terjangnya difirmankan pesan Qur’ani: Dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki. Alat (senjata) yang dipakai Iblis untuk memperdaya manusia adalah al Ghoflah (kelalaian), ia laksana pedang untuk memotong segala sesuatu, kemudian syahwat, laksana busur yang mematikan sasaran bidikan, lalu kekuasaan, ibarat perisai yang menjaga terkikisnya nafsu, kebodohan dengan nisbah penumpang yang diantar kebodohan kesegala dimensi kehidupan, syair-syair utopis dan hipokrit, kehura-huraan dan keglamouran serta jerat-jerat setan lainnya, semisal: perang dan fitnah, juga termasuk penyakit bingka-bingka dsb. Pada kesempatan ini kita hanya membahas tentang nafsu. Hawa nafsu menjalar pada diri seseorang laksana sebuah penyakit yang sangat ganas, bahkan lebih berbahaya dari virus. Hawa nafsu lebih berbahaya karena tidak disadari oleh pengidapnya, tetapi ia lebih mematikan. Jika virus dapat membinasakan jasad manusia(jasmani), maka hawa nafsu bisa menghancurkan jiwanya (rohani). Sehingga hatinya pun mati dan gelap gulita, dan pada akhirnya dia tidak lagi mampu menerima petunjuk dari Allah SWT. Dalam ajaran Islam, nafsu itu bukan untuk dibunuh, melainkan untuk dijaga dan di kawal. Rasulullah SAW sangat menekankan tentang adanya jihad yang batin, jihad melawan hawa nafsu. Ketika balik dari satu peperangan yang dahsyat melawan kaum musyrikin, Rasulullah SAW bersabda yang artinya : Kita baru kembali dari satu peperangan yang kecil untuk memasuki peperangan yang lebih besar. Sahabat terkejut dan bertanya, “Peperangan apakah itu wahai Rasulullah ? ” Baginda berkata, “Peperangan melawan hawa nafsu.” (Riwayat Al Baihaqi). Nafsu itu dalam pemaknaan terminologisnya memiliki lima arti: 1. Nafsu kebinatangan. 2. Nafsu amarah. 3. Nafsu mulhamah. 4. Nafsu lawwamah. 5. Nafsu muthma’innah. Kesemuanya adalah nama ruh, sebab hakekat nafsu adalah ruh, sedang kesejatian ruh itu adalah al Haq. Ruh adalah kutub yang berkilauan cahaya dalam jiwa manusia. Sedang jism adalah kutub yang penuh kegelapan. Adapun nafs (jiwa) ialah zona netral yang dijadikan ajang tarik-menarik manusia. la adalah media yang bisa mengantarkan manusia menuju kepada Allah, tapi ia juga bisa menjadi media untuk menggulung manusia dengan jilatan api jahanam. Nafsu kebinatangan, pada prinsipnya adalah terkait dengan badan saja!. Adapun nafsu amarah sejatinya adalah; segala kehendak yang lahir dari tabiat syahwat yang cenderung kepada perilaku kebinatangan dengan menafikan rambu-rambu pelarangan dan perintah keTuhanan. Sedangkan nafsu Mulhamah sejatinya adalah; ilham-ilham ketuhanan yang ditafsiri keragu-raguan dan sakwasangka, segala ilham yang disikapi keragu-raguan adalah nafsu, wujud hakikinya terlihat dengan jelas pada perilaku buruk manusia dalam kehidupan alam syahadah (alam realitas), tafakkurilah bahwa keragu-raguan akan mendorong seseorang kepada perilaku negative yang menjadi embrio keburukan dalam alam realitas. Sedang nafsu amarah sejatinya adalah; buah dari perilaku amarah nafsu, karenanya ilham yang lahir dari diri adalah amarah, sedang ilham yang lahir dari ketuhanan disebut Mulhamah. Kemudian nafsu lawwamah sejatinya adalah; konsekwensi logis yang lahir dari nafsu Ammarah dan Mulhamah yang menyebabkan pelakunya tercampakkan dari nilai-nilai ketuhanan bahkan Tuhan itu sendiri. Adapun nafsu Muthma’innah sejatinya adalah nafsu yang tetap eksis dalam naungan nilai-nilai ketuhanan, jika ia consist dalam jasad manusia, maka jasad tersebut akan eksis dalam ketersambungan bersama al Haq, dan bisa menyingkap dimensi gaib-Nya. Nafsu itu asal penciptaannya dari ruh, jika ruh itu terputus dari bersitan-bersitan suci dan terpuji yang lahir dari ke-rahim-an al Haq, maka siempunya jasad akan berperilaku dengan sifat-sifat ketuhanan, sebaliknya jika ruh itu didominasi sifat-sifat setan, ruh itu marak dengan bisikan-bisikan jahat dan tercela, sehingga siempunya jasad tercampakkan dari sifat-sifat ketuhanan dan tidak akan pernah bisa merengkuh hakekat inti (dzat)-Nya. Jika manusia sampai pada keadaan di mana dia terdis-integrasi dari poros 'ubudiayah dan ketaatan Ilahi dan masuk ke poros penuhanan hawa nafsu, maka dia mengalami kemurtadan yang mutlak. Suatu hal yang pantas untuk disematkan kepada mereka adalah firman Allah: "Mereka melalaikan Allah, maka Kami (Allah) melalaikan mereka."Q.S. At-Taubah 67. Dalam Shahihain disebutkan, bahwasanya Rasul SAW bersabda “Surga itu dikelilingi dengan hal-hal yg dibenci, adapun neraka dikelilingi dengan berbagai syahwat.” RAGA itu di kendalikan oleh AQAL dan NAFSU yang terletak dalam QOLBU yang dapat hidup karena ada RUH dengan KUASA الله سبحانه و تعالى Di dalam jiwa, terpatri juga fitrah. la selalu menggerakkan manusia kepada Allah dan seluruh kebaikan. la mengendarai jiwa manusia dengan bahan akal menuju kepada Allah. Akal adalah bahan jiwa menuju Allah. la membakar jiwa manusia dengan api yang sangat panas. la "memaksa" manusia bergerak menuju Allah Dalam sebuah riwayat, disebutkan bahwa akal mempunyai 75 bala tentara. Tidak ada jalan lain untuk taqqorrub kepada Allah selain mengikuti syariat-Nya (al Quran dan Hadits) dengan jalan taqwa. Taqwa dengan megontrol, menguasai hawa nafsu, menguasai syahwat dan naluri manusia sampai sejauh mungkin. Sehingga hawa nafsu seiring, taat dengan hukum Allah dan segala keinginannya sesuai dengan kehendak Allah SWT. Dengan begitu kita akan membenci apa yang dibencihi Allah, dan menyukai apa yang disukai Allah. Hingga manusia dapat mencapai puncak interaksi dengan al Haq. Allah mempunyai dua hujjah (bukti) atas manusia. Hujjah yang tampak (zhâhir) dan tersembunyi (bâthin). Hujjah yang tampak ialah para Rasul as, sedangkan hujjah yang tersembunyi ialah akal.” Akal dan agama selalu bahu-membahu dalam diri manusia dan di masyarakat luas untuk menghadang hawa nafsu dan tagut. Semoga Allah menjauhkan diri kita dari kesalahan, kealpaan dan cinta kepada hawa nafsu dan dilindunginya kita dari setan yang rerkutuk. Semoga Ia menjadikan kita di antara orang-orang yang takut dan bertakwa kepada-Nya, sekaligus cinta rindu kepada-Nya.