Rabu, 08 Januari 2014
NAFSU
Syetan itu adalah anak turunan Iblis semoga al Haq selalu mengutuknya, ketika bias-bias Iblis telah mendominasi nafsu dan tabiat seseorang serta melahirkan geliat syahwat pada orang itu, disitulah syetan tertampakkan dalam arti yang sesungguhnya, ketika Iblis mampu membalikkan al Fuad (hati yang eksis) menjadi Qolbu (hati yang tidak eksis), maka lahirlah Syetan-syetan itu dari diri Iblis, seperti lahirnya keburukan dari bara api, pun laksana tumbuhnya tetumbuhan diatas muka bumi ini. Para pengikut setan itulah sejatinya anak turunan Iblis, yang selalu bersemayam di hati setiap insan, para setan itu selalu menebar kejahatan dan bisikan jahat yang tersembunyi di dada manusia, para setan itu berkolaborasi dengan manusia dalam segala hal diberbagai dimensi kehidupan yang ada, seperti yang diwartakan pesan Qur’ani: Mereka berserikat dengan para manusia pada harta dan anak-anak. (Q.s al Israa’ 64). Di antara mereka ada yang mengokohkan watak-watak kebinatangan manusia, dan meredupkan cahaya-cahaya ketuhanan pada diri manusia, para setan itu bahkan mampu menampakkan diri mereka dengan wujud hakiki manusia, hal itu seperti yang ditegaskan firman Qur’ani: Setan-setan dari jenis manusia, dan dari jenis jin. (Q.s al An’aam 112), hanya manusia-manusia yang makrifah dan tajam mata hati dan fikirannyalah yang bisa mengetahui kesejatian setan-setan jenis manusia tersebut. Setan jenis inilah sejatinya sumber fitnah dalam kehidupan dunia ini, yang sepak terjangnya difirmankan pesan Qur’ani: Dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki.
Alat (senjata) yang dipakai Iblis untuk memperdaya manusia adalah al Ghoflah (kelalaian), ia laksana pedang untuk memotong segala sesuatu, kemudian syahwat, laksana busur yang mematikan sasaran bidikan, lalu kekuasaan, ibarat perisai yang menjaga terkikisnya nafsu, kebodohan dengan nisbah penumpang yang diantar kebodohan kesegala dimensi kehidupan, syair-syair utopis dan hipokrit, kehura-huraan dan keglamouran serta jerat-jerat setan lainnya, semisal: perang dan fitnah, juga termasuk penyakit bingka-bingka dsb.
Pada kesempatan ini kita hanya membahas tentang nafsu. Hawa nafsu menjalar pada diri seseorang laksana sebuah penyakit yang sangat ganas, bahkan lebih berbahaya dari virus. Hawa nafsu lebih berbahaya karena tidak disadari oleh pengidapnya, tetapi ia lebih mematikan. Jika virus dapat membinasakan jasad manusia(jasmani), maka hawa nafsu bisa menghancurkan jiwanya (rohani). Sehingga hatinya pun mati dan gelap gulita, dan pada akhirnya dia tidak lagi mampu menerima petunjuk dari Allah SWT.
Dalam ajaran Islam, nafsu itu bukan untuk dibunuh, melainkan untuk dijaga dan di kawal. Rasulullah SAW sangat menekankan tentang adanya jihad yang batin, jihad melawan hawa nafsu. Ketika balik dari satu peperangan yang dahsyat melawan kaum musyrikin, Rasulullah SAW bersabda yang artinya :
Kita baru kembali dari satu peperangan yang kecil untuk memasuki peperangan yang lebih besar. Sahabat terkejut dan bertanya, “Peperangan apakah itu wahai Rasulullah ? ” Baginda berkata, “Peperangan melawan hawa nafsu.” (Riwayat Al Baihaqi).
Nafsu itu dalam pemaknaan terminologisnya memiliki lima arti:
1. Nafsu kebinatangan.
2. Nafsu amarah.
3. Nafsu mulhamah.
4. Nafsu lawwamah.
5. Nafsu muthma’innah.
Kesemuanya adalah nama ruh, sebab hakekat nafsu adalah ruh, sedang kesejatian ruh itu adalah al Haq. Ruh adalah kutub yang berkilauan cahaya dalam jiwa manusia. Sedang jism adalah kutub yang penuh kegelapan. Adapun nafs (jiwa) ialah zona netral yang dijadikan ajang tarik-menarik manusia. la adalah media yang bisa mengantarkan manusia menuju kepada Allah, tapi ia juga bisa menjadi media untuk menggulung manusia dengan jilatan api jahanam.
Nafsu kebinatangan, pada prinsipnya adalah terkait dengan badan saja!. Adapun nafsu amarah sejatinya adalah; segala kehendak yang lahir dari tabiat syahwat yang cenderung kepada perilaku kebinatangan dengan menafikan rambu-rambu pelarangan dan perintah keTuhanan. Sedangkan nafsu Mulhamah sejatinya adalah; ilham-ilham ketuhanan yang ditafsiri keragu-raguan dan sakwasangka, segala ilham yang disikapi keragu-raguan adalah nafsu, wujud hakikinya terlihat dengan jelas pada perilaku buruk manusia dalam kehidupan alam syahadah (alam realitas), tafakkurilah bahwa keragu-raguan akan mendorong seseorang kepada perilaku negative yang menjadi embrio keburukan dalam alam realitas. Sedang nafsu amarah sejatinya adalah; buah dari perilaku amarah nafsu, karenanya ilham yang lahir dari diri adalah amarah, sedang ilham yang lahir dari ketuhanan disebut Mulhamah. Kemudian nafsu lawwamah sejatinya adalah; konsekwensi logis yang lahir dari nafsu Ammarah dan Mulhamah yang menyebabkan pelakunya tercampakkan dari nilai-nilai ketuhanan bahkan Tuhan itu sendiri. Adapun nafsu Muthma’innah sejatinya adalah nafsu yang tetap eksis dalam naungan nilai-nilai ketuhanan, jika ia consist dalam jasad manusia, maka jasad tersebut akan eksis dalam ketersambungan bersama al Haq, dan bisa menyingkap dimensi gaib-Nya. Nafsu itu asal penciptaannya dari ruh, jika ruh itu terputus dari bersitan-bersitan suci dan terpuji yang lahir dari ke-rahim-an al Haq, maka siempunya jasad akan berperilaku dengan sifat-sifat ketuhanan, sebaliknya jika ruh itu didominasi sifat-sifat setan, ruh itu marak dengan bisikan-bisikan jahat dan tercela, sehingga siempunya jasad tercampakkan dari sifat-sifat ketuhanan dan tidak akan pernah bisa merengkuh hakekat inti (dzat)-Nya.
Jika manusia sampai pada keadaan di mana dia terdis-integrasi dari poros 'ubudiayah dan ketaatan Ilahi dan masuk ke poros penuhanan hawa nafsu, maka dia mengalami kemurtadan yang mutlak.
Suatu hal yang pantas untuk disematkan kepada mereka adalah firman Allah: "Mereka melalaikan Allah, maka Kami (Allah) melalaikan mereka."Q.S. At-Taubah 67.
Dalam Shahihain disebutkan, bahwasanya Rasul SAW bersabda “Surga itu dikelilingi dengan hal-hal yg dibenci, adapun neraka dikelilingi dengan berbagai syahwat.”
RAGA itu di kendalikan oleh AQAL dan NAFSU yang terletak dalam QOLBU yang dapat hidup karena ada RUH dengan KUASA الله سبحانه و تعالى
Di dalam jiwa, terpatri juga fitrah. la selalu menggerakkan manusia kepada Allah dan seluruh kebaikan. la mengendarai jiwa manusia dengan bahan akal menuju kepada Allah.
Akal adalah bahan jiwa menuju Allah. la membakar jiwa manusia dengan api yang sangat panas. la "memaksa" manusia bergerak menuju Allah Dalam sebuah riwayat, disebutkan bahwa akal mempunyai 75 bala tentara.
Tidak ada jalan lain untuk taqqorrub kepada Allah selain mengikuti syariat-Nya (al Quran dan Hadits) dengan jalan taqwa. Taqwa dengan megontrol, menguasai hawa nafsu, menguasai syahwat dan naluri manusia sampai sejauh mungkin. Sehingga hawa nafsu seiring, taat dengan hukum Allah dan segala keinginannya sesuai dengan kehendak Allah SWT. Dengan begitu kita akan membenci apa yang dibencihi Allah, dan menyukai apa yang disukai Allah. Hingga manusia dapat mencapai puncak interaksi dengan al Haq.
Allah mempunyai dua hujjah (bukti) atas manusia. Hujjah yang tampak (zhâhir) dan tersembunyi (bâthin). Hujjah yang tampak ialah para Rasul as, sedangkan hujjah yang tersembunyi ialah akal.”
Akal dan agama selalu bahu-membahu dalam diri manusia dan di masyarakat luas untuk menghadang hawa nafsu dan tagut.
Semoga Allah menjauhkan diri kita dari kesalahan, kealpaan dan cinta kepada hawa nafsu dan dilindunginya kita dari setan yang rerkutuk. Semoga Ia menjadikan kita di antara orang-orang yang takut dan bertakwa kepada-Nya, sekaligus cinta rindu kepada-Nya.
Langganan:
Komentar (Atom)