M A K R I F A H
Makrifah berasal dari akar kata “a-ra-fa”, yang
bermakna mengenal akan sesuatu. SEcara bahasa , makrifah berarti
meliputi sesuatu sebagaimana apa adanya . Dalam kitab suci Al Quran
disebutkan:
“ Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan
kepada Rasul ( Muhammad ) kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata
disebabkan kebenaran yang telah mereka ketahui “ ( Surah al Maidah : 83
),
“ Dan orang yang telah Kami berikan kitab kepadanya, mereka
mengenal ( Muhammad ) seperti mereka mengenal anak-anak mereka sendiri “
( Surah al An’am : 20 ).
Dalam Hadis Rasulullah saw bersabda :
“ Aku adalah orang yang paling mengenal Allah dan paling takut kepadaNya “. ( Kitab Madarijussalikin, jilid 3, m.s.338)
“
takutlah kamu ( bertaqwa ) kepada Allah, dengan mengambil perhatian
atas apa yang engkau kenal akan Dia dan dengan meninggalkan apa yang
dilarangNya “ ( riwayat Ahmad ).
“ Iman itu adalh mengenal Allah dengan hati “ ( Ibnu Majah )
“
Iman itu adalah mengenal dengan hati, mengakui dengan lisan dan
mengamalkan dengan perbuatan “ ( riwayat Thabrani dan Baihaqi )
“ Hati orang munafiq mengenal Allah tetapi mereka mengingkariNya “ ( riwayat Ahmad ).
Ibnu
Qayim menyatakan bahwa orang yang bermakrifat (arif) adalah orang yang
memiliki makrifat tentang Allah dengan segala sifat, asma dan
perbuatanNya, kemudian Allah membenarkan muamalahnya, memurnikan tujuan
dan niatnya, melepaskan akhlak-akhlaknya yang buruk, sabar menerima
ketetapan hukum Allah, baik yang berupa nokmat atau musibah, kemudian
berdoa kepadaNya berdasarkan bashirah terhadap agama dan ayat-ayat
Allah, memurnikan seruan hanya kepada Allah seperti yang dibawa oleh
Rasulullah, tidak dicampuri dengan keinginan , pemikiran dan hawa nafsu.
Sebagian
ulama berkata bahwa diantara tanda makrifat kepada Allah adalah
munculnya rasa takut kepada Allah, sehingga sesiapa yang lebih mengenal
Allah maka dia akan lebih takut kepadaNya, sebagaimana yang dinyatakan
oleh hadis nabi diatas.
Ada yang menyatakan bahwa makrifat akan
mendatangkan ketenangan jiwa, sehingga sesiapa yang bermakrifat kepada
Allah maka dia akan merasakan bertambahnya ketenangan jiwa “.
Ada
orang yang bertanya : Apakah tanda makrifat kepada Allah ? Ulama Salaf
menjawab bahwa tanda makrifat kepada Allah adalah kebersamaan hati
dengan Allah dan merasakan kedekatan hati dengan Allah “.
Ulama
tasawuf, Syibli berkata : “ Orang yang arif tidak mempunyai ikatan,
orang yang mencintai tidak mengeluh, hamba yang arif tidak akan mengadu,
bagi hamba yang takut tidak akan merasa aman dari siksa Allah, tetapi
dia juga mengakui tidak akan dapat lari daripada Allah “.
Ulama sufi
yang lain, Ahmad bin Ashim berkata : “ Sesiapa yang paling memiliki
makrifat kepada Allah, maka dia akan merasa paling takut dengan siksa
Allah “.
Ada lagi yang mengatakan bahwa ; Sesiapa yang makrifat
kepada Allah, maka dia merasa sempitnya dunia karena rindu ingin
berjumpa dengan Allah “
Ada yang menyatakan “ Makrifat kepada Allah
akan melapangkan segala kesempitan “. Hal ini disebabkan dia mengenal
sifat-sifat Allah, sehingga tidak ada kesulitan dan kesempitan dalam
hidup ini, sebab dia yakin dengan segala sifat-sifat Allah.
Ulama
lain berkata : “ Sesiapa yang memiliki makrifat kepada Allah, maka
hidupnya menjadi jernih dan tenang, segala sesuatu takut kepadanya, dia
tidak takut kepada apapun dan hatinya merasakan dekatnya seakan-akan
berada di sisi Allah “.
Subagian ulama menyatakan : “ Makrifat kepada
Allah maka dia akan merasa senang kepada Allah, senang dengan kematian,
dan semuanya akan senang kepadanya, sementara sesiapa yang tidak
memiliki makrifat kepada Allah maka dia akan merasakan terputusnya
dunia, ( dunia tidak member manfaat bagi kehidupannya dimasa mendatang
), dan sesiapa yang makrifat kepada Allah tidak akan membiarkan
sedikiktpun dari masa dan kesenangan di dunia kecuali hanya
dipergunakan untuk mencari keridhaan Allah, dan jika memakai kesenangan
hanya untuk dirinya berarti dia telah mendustakan makrifatnya kepada
Allah. Sesiapa yang memilkiki makrifat kepada Allah, maka AllahTaala
akan mencintainya, tergantung dari ukuran makrifatnya kepada Allah.
Sesiapa yang makrifat kepada Allah, maka dia sangat takut kepadaNya (
khauf ), selalu berharap kepadaNya ( raja’ ), bertawakkal dan berserah
diri kepadaNya, selalu merindukan perjumpaan dengan Nya, merasa malu
kepadaNya ( jika tidak melakukan perintahNya), mengagungkanNya dan
memuliakanNya “.
Diantara tanda orang yang arif adalah jika dia
melihat dan mendengar informasi yang ghaib maka hatinya segera menjadi
cermin mengajak kepada beriman, seberapa jauh kejernihan cermin hati
itu, maka sejauh itu dia merasakan kehadirran Allah, merasakan kehidupan
akhirat, merasakan wujudnya surge dan neraka, merasakan kehadiran rasul
dan malaikat.
Ada orang yang bertanya kepada seorang ulama tasawuf
Al Junaid bahwa ada segolongan orang yang mengaku telah mendapat tingkat
makrifat sehingga merasa tidak perlu lagi menjalankan shalat dalam
gerakan, cukup dengan mengenal Allah saja, dan mereka menyangka itulah
suatu kebajikan , maka AlJunaid berkata : “ Mereka itu adalah orang yang
dengan sengaja menggugurkan amal ibadah. Dalam pandangan saya ini
merupakan masalah yang berat,karena orang yang berzina atau mencuri
lebih baik daripada mereka yang berpendapat demikian. Orang yang
memiliki makrifat tentang Allah sepatutnya mengambil berat setiap amal
ibadah kepada Allah dan hanya ditujukan kepada Allah. Andaikata aku (
aljunaid ) berumur seribu tahun lagi, maka aku tidak akan mengurangi
amal ibadah walaupun sebesar atom kecuali jika umurka telah dihentikan
“.
Diantara tanda orang yang arif adalah tidak menyesali apa yang
lepas daripada tangannya, dan tidak gembira karena sesuatu yang
diterimanya, sebab dia melihat bahwa segala sesuatu tidak akan kekal (
fana ), dan segala sesuatu itu adalah milik Allah, semua datang dari
Allah dan akan kembali kepada Allah.
AlJunaid berkata : Orang tidak
disebut arif kecuali dia menjadi seperti tanah yang siap dipijak oleh
orang baik dan orang yang buruk, atau menjadi seperti awan yang akan
memberikan perlindungan kepada segala sesuatu, atau seperti hujan yang
akan memberikan airnya kepada orang yang disukai ataupun tidak disukai
‘.
Ulama lain berkata : Orang tidak disebut arif kecuali jika dia
memiliki harta sebanyak diberikan kepada nabi Sulaiman, tetapi harta itu
tidsak membuatnya berpaling sedikitpun daripada Allah”.
Seorang
ulama sufi Dzun Nun al Masri berkata : “ Tanda orang arif itu tiga macam
: Cahaya makrifatnya tidak memadamkan cahaya wara’nya. Kedua tidak
mempercayai ilmu batin dapat mengalahkan ilmu hukum secara zahir.
Ketiga, limpahan nikmat Allah tidak membuatnya merusak tabir yang telah
diharamkan Allah kepadanya “.
Dzun Nun ditanya dengan apa engkau
mengenal Allah ? Maka dia menjawab : “ Aku mengenal Tuhan dengan
Tuhanku, jikalau bukan karena TuhanKu maka aku tidak akan mengenal
Tuhanku “.
Orang arif akan tetap menjaga hubungannya dengan Allah
walaupun dalam keadaan tidur, sehingga ada yang berkata : Tidurnya orang
arif sama dengan berjaga dan nafasnya orang arif merupakan tasbih,
oleh sebab itu tidurnya orang arif lebih baim daripada shalatnya orang
yang lalai “.
Ulama berkata bergaul dengan orang arif akanmengajakmu
kepada enam perkara ; “ Mengajakmu dari keraguan kepada keyakinan, dari
riya kepada ikhlas, dari lalai kepada dzikir, dari keinginan terhadap
dunia kepada keinginan kepada akhirat, dari takabur kepada tawadhu, dan
dari buruk sangka kepada nasihat “.
Orang arif adalah orang yang
selalu mengisi waktunya dengan amal kebajikan, dan membagun waktunya
untukmkehidupan dimasa mendatang.
Oleh sebab itu Muhammad bin al Fadl berkata : Makrifat itu adalah hidupnya hati seorang hamba bersama Allah.
Walahu A’lam
Masjid AlGhufron, 7 Ogos 2007/23Rajab 1428
Muhammad Arifin bin Ismail.