Sabtu, 14 Desember 2013

Khutbah Tafakur Tafakur adalah suatu perenungan dengan melihat, menganalisa, meyakini secara pasti untuk mendapatkan keyakinan terhadap segala sesuatu yang berhubungan dengan Allah. Banyak hal dari Allah yang harus ditelaah, dianalisa hingga akal pikiran yakin dan perasaan menerima, seperti sifat sifat Allah, nama nama Allah, ciptaan ciptaan Allah semua akan membawa kepada percaya adanya Allah. Tuhan kita bernama Allah dengan memiliki 99 nama lainnya, Allah mempunyai sifat yang spesifik, mempunyai ciptaan, mempunyai dzat Ketuhanan. Tafakur dalam Islam akan meningkatkan tauhid, keyakinan dan kepercayaan kepada Allah berdasarkan akal pikiran dan perasaan atau hati. Selain untuk mendekatkan diri kepada Allah, Tafakur juga dapat digunakan untuk setiap saat melihat, memperhatikan perilaku, sifat, kejadian, masalah yang setiap saat muncul selama manusia – umat Islam menjalani kehidupan. Dalam menjalani kehidupan harus selalu diwaspadai, akan terjadi hal-hal baru yang baik atau buruk, menguntungkan dan atau merugikan. Semua ini ada yang dapat diatasi dan diatur, ada yang tidak, terjadi secara spontan menurutkan kehendak Allah Subhanahu Wa Taala, ada yang dapat diterima dan lebih sering tidak dapat diterima. Disebutkan di dalam hadits, bahwa tafakur sesaat adalah lebih baik daripada ibadah satu tahun. Dorongan untuk bertafakur, tadabur, berpikir, dan mengambil pelajaran dapat diketahui dari ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits. Tafakur adalah kunci untuk memperoleh cahaya, asas meminta pertolongan dan perangkap ilmu. Keutamaan tafakur disebutkan Allah dalam bentuk pujian, “...dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi.” (QS. Ali Imran (3): 191) Ibn ‘Abbas berkata kepada suatu kaum, “Janganlah kamu memikirkan tentang Allah SWT.” Maka Nabi SAW bersabda, “Berpikirlah tentang penciptaan Allah, tetapi jangan kamu berpikir tentang Allah, karena kamu tidak akan mampu mengukur-Nya,” Dari Nabi SAW., bahwa pada suatu hari ia keluar menuju suatu kaum. Mereka sedang bertafakur. Maka Nabi SAW bertanya, “Apa yang kamu sedang kerjakan sehingga kamu tidak berbicara?” Mereka menjawab, “Kami sedang memikirkan ciptaan Allah SWT.” Selanjutnya Nabi SAW bersabda, “Kalau begitu, maka lakukanlah. Berpikirlah tentang ciptaan Allah, tetapi janganlah kamu memikirkan tentang-Nya. Sesungguhnya di barat ini ada bumi yang putih cahayanya perjalanan matahari empat puluh hari. Di dalamnya terdapat makhluk dari makhluk-makhluk Allah. Mereka tidak pernah mendurhakai Allah sekejap mata pun. Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, lalu dimana setan terhadap mereka? Beliau bersabda, “Mereka tidak tahu setan diciptakan atau tidak.” Mereka berkata, “Bagaimana dengan anak Adam?” Beliau bersabda, “Mereka tidak tahu Adam diciptakan atau tidak.” Ibn ‘Umair berkata, “Ceritakanlah kepada kami hal yang paling menakjubkanmu yang engkau lihat dari Rasulullah SAW.” Maka ‘Aisyah menangis, lalu berkata, “Setiap ihwalnya menakjubkan. Pada malam giliranku, ia datang kepadaku sehingga kulitnya menyentuh kulitku. Beliau berkata, ‘Biarkan aku shalat kepada Tuhanku.’ Maka beliau pergi ketempat air, lalu berwudhu. Kemudian beliau shalat. Maka beliau menangis sehingga basah janggutnya. Kemudian beliau sujud sehingga air matanya membasahi tanah. Selanjutnya beliau berbaring pada salah satu sisinya hingga datang Bilal menyeru shalat subuh. Maka Bilal bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apa yang menyebabkanmu menangis? Padahal Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang lalu dan yang akan datang.’ Beliau menjawab, ‘Bagaimana kamu ini, wahai Bilal, apa yang mencegahku untuk menangis. Sesungguhnya pada malam ini Allah SWT telah menurunkan wahyu, Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang berakal.” Selanjutnya beliau bersabda, ‘Celakalah orang yang membacanya tetapi tidak memikirkannya.’” Ada yang bertanya kepada Al Auza’i, “Apa tujuan memikirkan penciptaan langit dan bumi? Al-Auza’i menjawab, “Membaca ayat-ayat tersebut dan memahaminya.” Al-Junaid ra., berkata, “Majelis yang paling mulia dan paling tinggi adalah duduk dengan memikirkan medan tauhid, hembusan angin makrifat, minum dengan gelas cinta dari lautan kasih dan pandangan dengan prasangka baik kepada Allah SWT.” Kemudian ia berkata, “Aduhai betapa agungnya majelis dan betapa lezatnya minuman. Bahagialah bagi orang yang dianugerahinya.” makna tafakur adalah menghadirkan dua makrifat di dalam hati agar dari keduanya membuahkan makrifat ketiga. Misalnya, seseorang mengetahui bahwa akhirat itu lebih baik dan lebih kekal. Berusaha memperoleh yang lebih baik dan lebih kekal adalah lebih pantas. Tujuan dari tafakur adalah membuahkan ilmu didalam hatinya. Maka hal itu menyebabkan keindahan. Kedua makrifat itu merupakan keselamatan. Keduanya merupakan buah dari ilmu dan ilmu merupakan buah dari tafakur. Banyak objek atau materi yang bisa direnungi. Namun secara umum pada kesempatan kali ini kita akan mengulas dua objek atau materi tafakkur. Pertama, tafakkur terhadap ayatullah almaqru’ah atau Al-Qur’an, dan kedua ayatullah almasyhudah atau alam yang biasa juga disebut dengan ayat kauniyah. Pertama, tafakkur Al-Qur’an atau biasa juga disebut dengan tadabbur. Al-Qur’an menegur siapa yang tidak pernah melakukan tadabbur (merenungi) ayat-ayat Al-Qur’an. أَفَلا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلافًا كَثِيرًا Maka Apakah mereka tidak mentadabburi (merenungi) Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. (An-Nisa’: 82). Allah SWT. juga berfirman: أَفَلا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا Maka Apakah mereka tidak mentadabburi (merenungi) Al Quran ataukah hati mereka terkunci? (Muhammad: 4). Tadabbur Al-Qur’an bisa mengkondisikan hati kita. Bisa membuat hati kembali menjadi khusyu’, menjadi tenang dan tentram. Allah SWT. berfirman: أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نزلَ مِنَ الْحَقِّ وَلا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الأمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ Artinya: Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Alkitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik. (Al-Hadid: 16). Objek tafakkur yang kedua adalah alam atau ayat kauniyah. Allah SWT. dalam Al-Qur’an seringkali mengangkat fenomena ayat kauniyah, untuk membantu dan mendorong manusia agar merenunginya, sehingga akan lahir rasa dan keyakinan tentang keagungan Allah SWT. dalam dirinya. Akan lahir perasaan takut kepadaNya. Akan lahir perasaan betapa lemahnya seorang manusia. Misalnya Allah SWT. berfirman: وَفِي الأرْضِ آيَاتٌ لِلْمُوقِنِينَ. وَفِي أَنْفُسِكُمْ أَفَلا تُبْصِرُونَ Artinya: Dan di muka bumi ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin. Dan (juga) pada diri kalian, apakah kalian tidak berfikir (merenungi). (Adz Dzariyat: 20-21). Memikirkan Zat Allah SWT tidak ada jalan lain selain dengan zikir semata. Memikirkan tentang sifat-sifat, kerajaan dan malakut-Nya, maka setiap kadar berpikir tentang kerajaan-Nya, MALAKUT-Nya, dan sifat-sifat-Nya bertambah pula kecintaan terhadap-Nya. Adapun memikirkan tentang ciptaan-Nya adalah untuk menyingkap ihwal-Nya. Hal itu dapat dilakukan dengan merenungkan makna nama-nama dan sifat-sifat-Nya, serata memikirkan langit, bumi, planet-planet, dan setiap sesuatu selain Allah SWT. Itu semua adalah ciptaan dan buatan-Nya. Allah SWT berfirman, “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk.” (QS. Fushilat (41): 53). Dan juga firman-Nya, “Dan juga pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tiada memperhatikan?” (QS. Adz-Dzariyyat (51): 21) Maka objek tafakur adalah dirimu sendiri, kemudian segala ciptaan Allah SWT. Jamaah Jum'at yang dirahmati Allah. Sebagaimana Allah SWT. menegur siapa yang tidak merenungi (tadabbur) Al-Qur’an, Ia juga menegur siapa yang tidak pernah berupaya untuk merenungi kekuasaanNya di alam semesta. FirmanNya berbunyi: وَكَأَيِّنْ مِنْ آيَةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ يَمُرُّونَ عَلَيْهَا وَهُمْ عَنْهَا مُعْرِضُونَ Dan banyak sekali tanda-tanda (kekuasaan Allah) di langit dan di bumi yang mereka melaluinya, sedang mereka berpaling dari padanya. (Yusuf: 105). Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah. Demikian, semoga Allah SWT. menjadikan kita orang-orang yang senantiasa mengingatNya. MengingatNya dengan perantara ibadah tafakkur, baik tafakkur (tadabbur) Al-Qur’an dan tafakkur alam. Semoga dengan ibadah tafakkur, Allah SWT. senantiasa menghidupkan hati dan jiwa kita.

Jumat, 13 Desember 2013

BERPIKIR ISLAMI

BERPIKIR ISLAMI Berpikir adalah sebuah aktivitas yang dimulai dari mendapatkan informasi atas sebuah fakta melalui pancaindera, kemudian menghubungkannya dengan informasi yang telah disimpan sebelumnya di dalam otak. ummat Islam berusaha menggali, menganalisis dan mengembangkan, serta mengamalkan ajaran Islam dari sumber pokok ajarannya yaitu Al-qur'an dan Al-hadist untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, dapat tercipta insan kamil yang dapat merealisasikan idealitas Islami dengan pola iman dan taqwa, dan dapat melaksanakan fungsinya sebagai khalifah Allah di bumi. Proses pelaksanaan ajaran Islam berupaya menyelaraskan perkembangan dan kemajuan zaman sesuai pola pikir manusia dari yang sederhana hingga kompleks. Paradigma Islam dalam ajarannya memandang manusia sebagai manusia yang mempunyai fungsi dan peran serta tugas sebagai khalifah di bumi ini. Pada intinya paradigma Islam dalam berpikir mempunyai konsekuensi logis dalam memperhatikan manusia sebagai mahluk yang monodualis (jasmani dan rohani), unik serta memerlukakn pendidikan seumur hidup, mementingkan nilai keseimbangan, menjalankan nilai kehambaan dan dimensi kekhalifahan. Di dunia ini ada beberapa ajaran yang dapat disebut ideologi, sub-ideologi, semi-ideologi atau pseudo-ideologi. Tetapi secara umum, ajaran kapitalisme dan sosialisme, atau juga materialisme, naturalisme, sinkeretisme dapat disebut ideologi. Kapitalisme sebenarnya bertumpu pada pandangan sekulerisme, yang memisahkan agama dari perannya dalam kehidupan publik. Selanjutnya pandangan ini memberikan kebebasan maximal dalam berbagai hal (liberalisme). Tentu saja kebebasan ini dalam prakteknya harus dibatasi oleh hukum, cuma hukum seperti apa? Karena asas sekulerisme, maka lahirlah hukum demokrasi liberalisme. Sedangkan ideology islam menyatu di dalam agama dan kehidupan pemeluknya. Tolak ukur berkembang dan majunya peradapan islam pada waktu dulu adalah dengan berpegang teguhnya ummat waktu itu pada agamanya. Sedangkan barat adalah sebaliknya dengaan memisahkan diri dari agama. Berpikir islami sebenarnya menempatkan Islam sebagai ideologi. Karena syahadat seorang muslim adalah falsafah yang akan berpengaruh pada pandangan hidup, pola pikir, sikap, perilaku, dsb. Dia tidak hanya berpikir tentang dirinya, tetapi juga tentang rahmat bagi alam semesta. Dia otomatis berpikir internasional, karena semua bangsa berhak untuk merasakan indahnya Islam. Dan lebih dari itu, dia tidak cuma berpikir dunia di masa sekarang, tetapi juga di masa yang akan datang. Bahkan dia bisa melihat apa yang tidak terdeteksi oleh pancaindera, yaitu akherat! Berpikir Islami juga pasti berpikir Indonesia, negeri kaya sumber daya tetapi juga kaya potensi bencana tempat tinggal muslim terbanyak di dunia. Berpikir Islami juga pasti berpikir inspiratif, bagaimana menggerakkan orang yang sudah bersyariah menjadi siap berdakwah; yang baru beribadah agar kaffah bersyariah sebagai aplikasi keimanan dan ketakwaannya, bahkan menanamkan, membumikan, dan meyakini bahwa sesungguhnya Tiada Sesembahan yang wajib disembah selain Allah, dan sesungguhnya Muhammad adalah Nabi dan Utusan Allah. Berpikir Islami pasti mendorong orang untuk berpikir inovatif, karena Islam berlaku hingga akhir zaman, tetapi tanpa ijtihad yang menghasilkan berbagai inovasi, akan banyak persoalan yang tidak mendapatkan solusi. Dan jelas, berpikir Islami adalah berpikir ilmiah. Karena dasar keimanan (syahadat) sudah seharusnya dicapai dengan cara berpikir yang rasional, dan selanjutnya seperti soal malaikat atau hari kiamat, diturunkan dari dasar keimanan secara rasional. pemikiran universal menuju keberhasilan hidup yang diberkahi Tuhan. Agar kita dapat menikmati hidup ini dengan penuh kebahagiaan, kita perlu merevolusi mental di abad digital dengan merekonstruksi pola pikir kita dari pola pikir manusiawi yang bersifat jangka pendek dan materi duniawi menjadi pola pikir islami (spiritual) yang berjangka panjang dan lebih mengutamakan keimanan. pola pikir sebagai sistem keyakinan, sistem berpikir, dan sistem tingkah laku yang bersifat keislaman. Pola pikir Islami adalah alat untuk mengelola potensi diri dan sumber daya yang kita miliki untuk menikmati hidup penuh kebahagiaan. Yakin Terhadap Janji-janji Allah, membahas keyakinan yang memberdayakan dapat ditumbuhkan dengan meyakini janji-janji Allah. Di sini kita diingatkan bahwa janji Allah pasti benar karena Tuhan tak pernah ingkar janji. Allah menjanjikan kemudahan setelah kesulitan. Janji Allah adalah bagian dari hukum yang bersifat universal. Nilai-nilai Spiritual Sumber Motivasi, membahas mengenai keimanan merupakan modal yang sangat penting dalam menjalani kehidupan ini. Tanpa keimanan, kita tidak memiliki pegangan hidup yang kuat. Misalnya, kalau kita mengerjakan sesuatu dengan niat untuk mendapatkan ridho Allah, kita tentu tidak mudah kecewa kalau gagal. pembahasan menjadi orang yang baik ukurannya sederhana yaitu seberapa manfaat yang diberikan kepada sesama umat manusia. Orang yang baik senantiasa menjaga kesucian diri. Orang-orang yang menjaga kesucian termasuk orang-orang yang beruntung. Orang yang baik juga orang yang menyerahkan hasil dari usahanya kepada Allah. Urusan kita adalah berusaha dan bekerja menjemput rejeki yang disediakan oleh Tuhan. Sedangkan hasilnya adalah urusan Tuhan. Itulah yang disebut dengan tawakal. bahwa Tuhanlah yang menciptakan, memiliki, mengatur, dan menguasai segala sesuatu. Tuhan yang Maha Pemberi dan Maha Kaya. Tuhan juga tempat bergantung segala sesuatu, termasuk manusia. Wajar kalau kita berharap hanya kepada Tuhan. Memiliki harapan tentu lebih baik daripada tidak memiliki harapan sama sekali. Tapi, apabila harapan itu hanya bersandar pada kemampuan manusiawi kita, akal kita, kemampuan kita, resikonya adalah kecewa mengingat tak seorang pun yang menjamin semua keinginannya terpenuhi. membangun pola pikir Islami yaitu dengan mempraktekkan, mengaktualisasikan apa yang sudah di ajarkan Nabi seperti sholat, berpuasa, adab, mengingat Allah, meyakini keberadaan Allah, meyakini kekuasaan Allah yang tidak terbatas, mengingat mati,dsb. Semoga khutbah ini bermanfaat bagi kita yang mau mengasah kecerdasan spiritual dan integritas, melalui pembentukan pola pikir yang berjiwa keimanan dan ketakwaan kepada Allah. Semoga kita mempunyai pola piker di atas jalan syariat. Amin.

Kamis, 12 Desember 2013

BIOLOGI IMAN


 BIOLOGI IMAN

Penemuan mutakhir yang amat mengagumkan ialah diketahuninya sentra di otak yang aktif disebabkan keimanan dan ibadah yang berfungsi untuk menyeimbangkan peran kejiwaan dan fisik. Hal tersebut menetapkan prinsip penciptaan bahwa iman adalah fitrah yang tertanam dalam jiwa manusia. Jiwa yang khusyuk yang mempunyai iman yang kuat  akan mempengaruhi kesehatan jiwa dan fisiknya.
iman kepada Allah dan beribadah kepada-Nya merupakan dorongan fitrah yang memiliki mekanisme dan berpusat di otak manusia. Bila seseorang tidak piawai dalam mengoperasikannya maka ia telah dengan sengaja untuk tidak berbeda dengan hewan yang mengakibatkan kehilangan keseimbangan jiwa dan fisik. Yang amat mengagumkan lagi ialah bahwa pengoperasian mekanisme tersebut sesuai dengan arahan-arahan agama yang mencerminkan gambaran yang amat sempurna, konprehensif dan bersih, sebagaimana yang tertuang dalam Al-Qur'an Al-Karim sebagai manhajul hayah (konsep hidup).
Kepercayaan kepada Allah adalah desain dasar (design in built) yang sudah ada dalam otak. Sebab itu, tidak mungkin seseorang dapat terlepas darinya kecuali dengan pura-pura buta terhadap fitrah yang lurus yang menjadikan manusia terdorong untuk beragama sepanjang sejarah.
Pengingkaran terhadap kecenderungan keimanan tersebut berarti mengabaikan kekuatan/kemampuan yang dahsyat yang berkembang sehingga memungkinkan seseorang mengenal kekuasaan Allah dengan berfikir dan meneliti ciptaan-Nya. Menurut Prof. Andrew Newberg, bahwa manusia dapat dikatakan diarahkan oleh satu kekuatan terhadap agama (religion for wired-hard). Sebaliknya, penelitian ilmiah sama sekali tidak mungkin menceritakan kepada kita secara langsung akan Dzat Allah... Akan tetapi ia dapat menceritakan kepada kita bagaimana Dia (Allah) mencipatakan manusia agar kita mengenal-Nya dan beribadah kepada-Nya.
beribadah kepada Allah adalah tugas, sedangkan beriman kepada-Nya adalah tuntutan alamiiah sama halnya dengan makan dan minum. Otak manusia bukan hanya sebuah alat sebagai chip yang bertugas untuk beriman kepada Allah. Akan tetapi ia juga disiapkan untuk melaksanakan tugas ibadah untuk menjaga keselamatan jiwa dan fisik (physicist and physic) dengan arahan-arahan praktek aktif melalui sistematika saraf dan hormone yang saling terikat.
Akhlak, tingkah laku, perbuatan fisik seorang mukmin, atau fungsi biologis tubuh manusia mukmin dipengaruhi oleh imannya. Hal itu karena semua gerak dan perbuatan kita, baik yang dipengaruhi oleh kemauan, seperti makan, minum, berdiri, melihat, dan berpikir, maupun yang tidak dipengaruhi oleh kemauan, seperti gerak jantung, proses pencernaan, dan pembuatan darah, tidak lebih dari serangkaian proses atau reaksi kimia yang terjadi di dalam tubuh. Organ-organ tubuh yang melaksanakan proses biokimia ini bekerja di bawah perintah hormon yang diproduksi oleh kelenjar hipofise yang terletak di samping bawah otak. Pengaruh dan keberhasilan kelenjar hipofise ditentukan oleh gen (pembawa sifat) yang dibawa manusia semenjak ia masih berbentuk zigot dalam rahim ibu. Dalam hal ini iman mampu mengatur hormon dan selanjutnya membentuk gerak, tingkah laku, dan akhlak manusia.


Jika karena terpengaruh tanggapan, baik indera maupun akal, terjadi perubahan fisiologis tubuh (keseimbangan terganggu), seperti takut, marah, putus asa, dan lemah, maka keadaan ini dapat dinormalisir kembali oleh iman. Oleh karena itu, orang-orang yang dikontrol oleh iman tidak akan mudah terkena penyakit modern, seperti stress, darah tinggi, diabetes dan kanker.

Sebaliknya, jika seseorang jauh dari prinsip-prinsip iman, tidak mengacuhkan asas moral dan akhlak, merobek-robek nilai kemanusiaan dalam setiap perbuatannya, tidak pernah ingat Allah, maka orang yang seperti ini hidupnya akan diikuti oleh kepanikan dan ketakutan. Hal itu akan menyebabkan tingginya produksi adrenalin dan persenyawaan lainnya. Selanjutnya akan menimbulkan pengaruh yang negatif terhadap biologi tubuh serta lapisan otak bagian atas. Hilangnya keseimbangan hormon dan kimiawi akan mengakibatkan terganggunya kelancaran proses metabolisme zat dalam tubuh kita. Pada waktu itu timbullah gejala penyakit, rasa sedih,  dan ketegangan psikologis. Dan apabila berlanjut akan mengakibatkan penyakit hipertensi, penyakit jantung, penyakit mah dsb.

Demikianlah pengaruh dan manfaat iman pada kehidupan manusia, ia bukan hanya sekedar kepercayaan yang berada dalam hati, melainkan juga menjadi kekuatan yang mendorong dan membentuk sikap dan perilaku manusia dalam aspek kehidupan

salah satu terapi mendapatkan hati yang tenang atau kondisi positive thinking adalah dengan senantiasa mengingat Allah (zikrullah)? Al-Quran menerangkan bahwa “hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” Bila stres dapat menyebabkan hipertensi, maka hati yang tenang (akibat zikrullah) tentu akan menenangkan hati. Hati yang tenang karena selalu berpikir positif ternyata dapat merangsang otak untuk mengeluarkan hormon yang disebut sistem opioid endogen atau sistem penenang dalam tubuh. Sistem ini memiliki berbagai efek. Salah satunya efek pada sistem saraf otonom simpatetik yang berdampak pada penurunan curah jantung sehingga jantung berdetak lebih tenteram. Sistem opioid endogen juga mampu mengeluarkan beragam hormon, seperti endorphin, enkephalin, dan semacamnya yang berfungsi sebagai penenang. Pikiran positif yang disebabkan oleh zikrullah akan menghambat jalur HPA sehingga kadar kortisol/kalium dalam darah pun akan turun. Tentunya ini berdampak pula pada turunnya tekanan darah.

rutinitas zikir seperti sholat akan menghasilkan konsentrasi kesadaran yg semakin intens, atau kemampuan untuk menguasai fokus mental dengan jernih di setiap saat yang disebut dengan ihsan. Juga akan meningkatkan hormone melatonin, pinolin, dmt, yang bermanfaat bagi perkembangan kesadaran spiritual. memungkinkan terbukanya pintu menuju “alam kesadaran” (super kesadaran), kepekaan intuisi (rasa bathin), kita akan meraskan kekhusukan didalam melakukan ibadah kepada Allah, dan kita akan merasakan ketenangan batin, selanjutnya dari segi fisik tubuh kita akan memproduksi zat-zat yang baik yang dibutuhkan oleh tubuh  sehingga terjadi keseimbangan kimiawi tubuh yang membuahkan kesehatan  jasmani.

Sebagai kesimpulan khutbah kita pada jumat yang berbahagia ini adalah iman bukan hanya sepenggal kepercayaan atau keyakinan semata yang ada di dalam hati, tapi iman mampu  mempengaruhi proses metabolisme dalam tubuh kita, segala sesuatu terpaan, kegalauan didalam kehidupan ini akan dinormalisir oleh iman dan itu akan membuahkan tuma’ninah/ketenangan baik jiwa maupun jasmani.